Beberapa saat yang lalu, saya sempat membaca sebuah buku berjudul "La Takhaf Wa La Tahzan" yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Mizan berjudul " Jalan Kebahagian dalam Konsepsi Al-Qur’an."
Dalam buku tersebut, Muhammad Djarot Sensa, menulis beberapa poin yang menurut saya membawa kepada kerendahan derajat Nabi Adam as.
Adam as. adalah mahluk dari jenis manusia yang pertama kali diciptakan oleh Allah Swt dan ditempatkan awalnya di dalam surga. Sesungguhnya, penempatan bapak manusia pertama tersebut di dalam surga, dikarenakan belum adanya mahluk yang sejenis dengannya. Dan telebih khusus lagi, untuk menunjukkan kepada para Malaikat seperti apa mahluk yang berwujud manusia, baik itu kelebihan dan kekurangannya.
Sebelum menciptakan Adam as., Allah Swt. terlebih dahulu menceritakan rencana perwujudan mahluk berjenis manusia itu kepada para Malaikat. Sehingga, ketika itu, para Malaikat memberikan tanggapan tapi bukan memprotes Allah Swt., ”Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan mebuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menyucikan-Mu.” Perkataan para Malaikat itu dikomentari oleh Allah Swt. dengan kata-kata bijaksana, ”Sesungguhnya Aku mengetauhi apa yang tidak kamu ketauhi”. (QS.Al-baqarah [2]: 30)
Kemudian Allah Swt. menciptakan Adam as., sebagai manusia pertama, dari tanah. Di antara Salah satu sifat tanah adalah mampu menampung dan menyerap apa saja, baik itu kebaikan maupun keburukan. Setelah penciptaan
Allah juga mengajarkan Adam nama-nama benda yang ada ketika itu (QS.Al-Baqarah [2]: 31). Pengajaran nama-nama tersebut membuat para Malaikat kagum. Ternyata mahluk berjenis manusia dan berasal dari tanah itu memiliki kelebihan dari mahluk yang ada di bumi lainnya. Mahluk itu, menurut para malaikat, mampu menyimpan memori yang telah diajarkan oleh Allah Swt..
Kekaguman tersebut, akhirnya meluncurkan kalimat pujian yang sangat indah kepada Allah Swt., “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketauhi selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; Engkaulah Yang maha Mengetauhi dan Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah [2]: 32).
Jadi, berdasarkan historis penciptaan Adam as., yang dilansir al-Qur’an, dapat kita ketauhi bahwa para Malaikat tidak membantah atau memperotes keras atas penciptaan mahluk Allah yang berwujud manusia.
Hanya saja, ketika itu, mereka mencoba untuk memberikan tanggapan atas apa yang direncanakan oleh Allah Swt. -berdasarkan mahluk yang hidup di bumi saat itu. Setelah mereka mengetauhi bahwa mahluk berjenis manusia itu memiliki akal, bukan seperti mahluk bumi lainnya yang hanya diberi nafsu, seketika itu juga mereka memuji Allah Swt.
Di samping itu, Allah Swt. juga ingin mengajarkan kepada para malaikat dan manusia bahwa akal itu memiliki keterbatasan. Diantaranya, tidak mampu mengetauhi yang ghaib (abstrak) dan rahasia ketetapan (hukum) Allah Swt.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar