24 Desember 2009
Senin kemarin aku berkunjung ke Rumah Sakit Jiwa, mengikuti ujian Anamnesis Status Mental Psikiatri yang langsung pada pasien psikosis (gila.red). Saat menginjakkan kaki ke halaman rumah sakit yang sedang direnovasi itu, rasa takutku memuncak. Apa yang harus kulakukan kalau pasien yang kuwawancarai tiba-tiba mengamuk? Bagaimana kalau pasiennya tidak mau berbicara? Beragam pertanyaan terlintas dipikiran.
Lama aku menunggu di teras sebuah barak tempat mereka yang memiliki gangguan pada kewarasannya itu di tempatkan. Rasa takutku perlahan sirna saat melihat tak ada pasien yang mengamuk. Pasien di barak itu adalah kaum Adam yang telah berumur. Kalau kau tak membaca tulisan di pintu masuk, maka aku yakin kau akan mengira kalau barak itu adalah panti jompo.
Seorang laki-laki dengan tangan dan kakinya yang lumpuh terseok-seok berjalan lalu mengambil tempat duduk di sampingku. Lalu datang lelaki yang semua giginya telah tanggal dan mengambil tempat di depanku. Di sudut teras, ada lelaki yang seluruh kepalanya dipenuhi uban sedang menghisap dengan nikmat sebatang rokok lalu menguncupkan bibir dan menghembuskan asap.
Tatapan mereka begitu kosong. Entah apa yang ada dibenak mereka. Berpikir kalau kami semua gila sedangkan mereka waras? Entahlah. Tak ada yang paham dengan apa yang mereka pikirkan. Lalu tiba-tiba suasana menjadi meriah ketika seorang pria yang juga pasien menghampiri kami.
Atas permintaan seorang perawat, ia bernyanyi. Pance, Iis Sugiarto, dan beberapa lagu daerah dinyanyikannya dengan penuh semangat. Kau tahu kenapa dia mau dengan begitu saja bernyanyi? Karena ada iming-imingan sebatang rokok. Bisa kau bayangkan, orang sakit disuguhkan penyakit? Dan itulah yang kusaksikan hari itu.
Miris memang, tapi begitulah trik yang harus ditempuh agar pasien mau melakukan apa yang kau inginkan termasuk menjawab setiap pertanyaan yang akan kau ajukan untuk ujian. Adakah solusi lain?
Saat tiba giliranku, akupun terpaksa mengimingi dua batang rokok untuk pasien yang akan kuwawancara. Terpaksa kawan. Aku tak memiliki trik lain agar lelaki yang baru menginjak dua puluh tahun itu mau berbicara denganku. Sambil memilin-milinkan tangan, ia menjawab apa yang kutanya.
Ya, tidak, lalu ditambah dengan beberapa jawaban yang lumayan panjang ketika kutanyakan pernahkah dia mendengar sesuatu bisikan yang membuatnya harus melakukan sesuatu? Kenapa kau dibawa kemari?
Dan jawabannya tentu saja : Tidak tahu. Orang gila tidak tahu kalau mereka itu gila, Teman! Lantas apa yang ada dipikiran mereka ketika kita menertawakan tingkah mereka? Wah, ada orang gila yang sedang tertawa melihat aksiku. Mungkin seperti itu.
Banyak hal yang kudapatkan dari kunjungan ke RSJ dan berinteraksi dengan pasien. Pelajaran agarku memperlakukan mereka sama seperti manusia normal. Mereka juga manusia. Hanya saja Tuhan mencabut nikmat kewarasan dari mereka. Gila itu penyakit bukan aib. Sama seperti ketika kita menderita gastritis (maag), hipertensi, jantung koroner, dan lain-lain yang akan sembuh jika diobati. Pengobatannya tidak hanya dengan obat-obatan. Tapi juga dengan perasaan.
Saat itu aku sempat tertegun. Ketika seorang bapak yang memiliki banyak rokok dan kue tanpa pikir panjang langsung membagikannya pada teman-temannya yang belum mendapatkan kue atau pun rokok. Tanpa berpikir kalau jatahnya akan berkurang. Tanpa pamrih. Lalu aku berpikir? Apakah kita yang waras melakukan hal yang sama?
Pernahkah kau melihat orang gila yang shalat lima waktunya tidak pernah ketinggalan? Aku melihatnya. Jangankan shalat lima waktu, shalat sunat seperti dhuha ataupun rawatib tak pernah absen dijalankannya. Ketika melihat ia menghadap Rabnya, tak terbayangkan kalau lelaki itu menyandang predikat gila. Tapi begitulah teman. Pekerjaan yang rutin kita lakukan selama nikmat waras itu masih diberikan Tuhan pada kita, maka akan terus tersimpan di memori ketika Tuhan mengambil nikmat itu.

0 komentar:
Posting Komentar