cerewet

| |
Jika kaum pria rentan dengan sikap dan perkataan kasarnya, maka wanita benar-benar rentan dengan sikap yang satu ini. Cerewet!

Orang cerewet tak menyadari bahwa dirinya cerewet, namun orang-orang di sekitarnyalah yang biasanya menjadi korban muntahan kata-kata yang tiada henti itu.

Jika ada di antara anggota keluarga Anda yang pernah mengomentari Anda sebagai wanita yang cerewet, maka jangan abaikan pernyataan itu, sebab mungkin hal itu benar adanya.
------------
Cerewet sebenarnya adalah suatu bentuk kemarahan yang dilontarkan dengan agresi verbal dan dilakukan seseorang kepada orang lain. Di balik kecerewetan, sebut Dra. Irna Minauli, Msi, Psikolog kepada wartawan koran ini, Rabu (30/5) ada satu ketidakpuasan yang disampaikan secara verbal.

Secara spesifik cerewet dapat dikategorikan sebagai sifat bawaan dan cerewet karena situasional. "Cerewet karena sifat bawaan merupakan bakat dari diri seseorang untuk menjadi lebih banyak bicara, dengan cepat sehingga tidak dapat terkontrol, dan biasanya ini terjadi karena unsur genetik bisa jadi bapak atau ibunya cerewet," kata Irna.Berbeda, cerewet karena situasional. "Biasanya, disebabkan karena kesal atau ada suatu permasalahan yang tidak terselesaikan," timpalnya.

Cerewet karena situasional disebabkan ada saat-saat dimana harus menyampaikan sesuatu secara tegas. Tegas bukan berarti harus marah-marah. Tetap harus belajar untuk menangani kemarahan.Jangan biarkan diri dikuasai oleh kemarahan. Karena dalam agama, kata Irna kemarahan itu perwujudan setan. Kemarahan merupakan wujud dari kekecewaan, ketakutan ataupun kesedihan. Tetapi, hati-hati sebab kemarahan bisa menimbulkan emosi yang lain."Kita harus marah pada orang yang tepat, waktu yang tepat juga kondisi yang tepat,"terang Irna.

Meskipun cerewet sebenarnya tidak identik dilakukan oleh perempuan, tetapi memang pada kenyataannya, kata Irna frekuensi cerewet perempuan lebih tinggi dibandingkan kaum lelaki. Hal ini disebabkan karena, perempuan untuk mewujudkan kemarahannya lebih bersifat verbal dibandingkan fisik."Secara budaya kita sudah terbentuk kalau perempuan itu menyalurkan kekesalan ataupun kemarahannya dengan kata-kata sementara kalau lelaki dengan fisik," sebut Irna.

Cerewet lebih jauh lagi diungkapkannya, sebagai suatu ketidakpuasan dimana ada suatu keadaan yang tidak tercapai dari tujuan. Atau ada satu keinginan yang tidak terpenuhi dan kebanyakan dari perempuan menyalurkannya dengan kemarahan secara verbal.

Dalam konteks suami istri, bisa jadi kalau istrinya cerewet secara psikoanalisa ada kaitannya dengan ketidakpuasan dalam hubungan seksual. "Perempuan disebut memiliki dua mulut, kalau mulut yang satu tidak terpuaskan, maka mulut yang satunya lagi akan cerewet atau ngomel. Sehingga, suami juga harus intropeksi mungkin saja istri cerewet karena tidak terpuaskan dalam hubungan seksual," bebernya.

Buruknya lagi, kalau ketidakpuasan dalam hubungan seksual itu malu diutarakan sang istri,dan terus dipendam sehingga tanpa dia sadari dari alam bawah sadarnya muncul ketidakpuasan tersebut dengan wujud kemarahan seperti mengomel.

Cerewet disebabkan situasional masih dinilai positif. Tetapi, kalau cerewet sudah menjadi sifat diri untuk berubah memang lebih sulit.

Sering sekali orang yang cerewet berbicara suatu hal lebih dari sekali. "Biasanya untuk membicarakan suatu hal bisa dilakukannya berulang kali, sehingga orang merasa tidak menarik lagi untuk mendengarnya, semakin dia tidak di dengar. Maka orang yang cerewet akan merasa semakin frustasi," paparnya.

Orang yang cerewet senantiasa merasa tidak puas jika berbicara suatu hal hanya sekali. Padahal bagi orang yang mendengarnya itu sudah tidak menarik lagi. Dan komunikasi yang dilakukan orang yang cerewet menjadi tidak efektif dan pemboroson energi psikis. "Buruknya lagi, informasi yang ingin disampaikan orang yang cerewet menjadi tidak nyambung dan bahkan menimbulkan kemarahan bagi orang lain," tukas Irna.

Padahal, membuang energi psikis itu sangat melelahkan, sebaiknya malah disalurkan untuk hal-hal yang lebih konstruktif, berkebun misalnya sehingga energi cerewet yang ada dapat menghasilkan hal yang positif juga nyaman bagi orang lain.

"Orang yang cerewet secara emosional tidak stabil, sedikit rangsangan yang menimbulkan kemarahannya akan menyebabkan respon yang berlebih. Misalnya suami terlambat pulang lima menit saja, hal itu baginya sudah menjadi masalah besar tanpa dia harus mengkoreksi lebih dulu penyebab keterlambatan suami," kata Irna.

Bagi orang yang cerewet, biasanya tidak bisa dilawan, semakin dilawan akan semakin menyala kemarahannya. Juga tidak ingin mengalah karena baginya dengan cerewet ada satu kepuasan kalau dia bisa menguasai orang lain. Tetapi, tanpa disadarinya kata-kata yang dilontarkannya menyakiti hati orang lain. Sehingga kerap menimbulkan perselisihan.Sebelum jauh kedepan sebaiknya, jika anda memiliki sifat cerewet intropeksilah diri sedini mungkin.Jalinlah komunikasi yan

materi referensi:

1 komentar:

Rhohmah_three mengatakan...

mcog sey cmua ce crewedt..?????????
quw thow gg iwg........
gg slah mksudte.!!!!!!!!!!
hehehehe..

Posting Komentar